Senin, 29 April 2013

PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN.

PEMANFAATAN BATU DAN TEMPURUNG KELAPA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA.

Kedua bahan lingkungan tersebut dapat kita gunakan dalam pembelajaran matematika dengan materi KPK.
Berikut contoh penggunaannya...
alat dan bahan yang di gunakan adalah:















  • Sediakan tempurung kelapa sesuai dengan banyak angka yang akan kita cari KPK nya.
  • masukkan batu ke dalam masing-masing tempurung kelapa dengan dibarengi dicatat dibuku.
  • setelah masing-masing tempurung kelapa terisi dengan jumlah yang sama. maka jumalah tersebut adalah KPK nya.
contoh:
KPK dari 2 dan 3 adalah....
penyelesaian:
- sediakan 2 tempurung kelapa. yang pertama untuk angka 2 dan yang kedua untuk angka 3.
- masukkan ke dalam tempurung satu dua buah batu, sedangkan tempurung ke dua 3 buah batu.
- setiap kali memasukkan batu, harus dicatat di buku.
- jika kedua tempurung sudah terisi sama banyak maka, KPK nya telah ditemukan.
maka yang tampak di catatan adalah:
kelipatan 2 = 2 + 2+ 2 = 6
kelipatan 3 = 3 + 3 = 6

FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN:
PEMANFAATAN BARANG BEKAS DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Suatu pembelajaran bisa kita dapatkan dari berbagai sumber dan referensi. Media yang digunakan pun dapat berupa apa saja yang terkait dengan pembelajaran. Bahkan barang bekas dapat menjadi sumber atau referensi, tapi yang paling umum adalah barang bekas sebagai media suatu pembelajaran. berikut salah satu contoh pemanfaatan barang bekas dalam pembelajaran matematika.

Alat dan bahan :
  • Tempat telur
  • Bagian-bagian kecil pulpen yang sudah tak terpakai
 Ini digunakan sebagai media pembelajaran pada materi perkalian dan pembagian bagi siswa kelas 3 dan 4 SD. Tujuannya tentu saja agar anak lebih mudah memahami pembelajaran serta dapat menaruh lebih banyak minat pada pembelajaran tersebut.
Aturan penggunaan pada perkalian:
  • siapkan  lubang tempat telur sesuai dengan pengali
  • isi setiap lubang yang telah disediakan sesuai dengan angka yang ingin dikali hingga lubang yang telah disediakan tadi terisi seluruhnya.
  • hitung jumlah keseluruhan, maka itu adalah hasil perkaliannya.
contoh penggunaan:
 2 x 3 = ....
penyelesaian:
2 x 3 = 2 + 2 + 2 = 6

  1. sediakan lubang telur sebanyak pengali, yaitu 3
  2. masukkan bagian pena ke dalam lubang tersebut masing-masing dua.
Aturan pembagian:
  • ambil bagian-bagian pena sesuai dengan angka yang akan dibagi.
  • sediakan lubang tempat telur sesuai angka yang pembagi.
  • isikan bagian pena ke setiap lubang  tempat telur satu persatu hingga habis.
  • hitung jumlah bagian pena yang ada di dalam satu lubang tempat telur tersebut. maka itu adalah hasil dari pembagian.
contoh penggunaan:
 15 : 3 = ....
penyelesaian:
  1. ambil sebanyak 15 buah bagian-bagian pena.
  2. sediakan 3 buah lubang tempat telur.
  3. isi ketiga lubang satu per satu secara merata.
  4. hitung jumlah bagian pena dalam satu lubang maka didapatlah hasil pembagian.




Rabu, 10 November 2010

Remembering Our Hero

Rabu, 10 November waktunya bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk membuka kembali arsip-arsip sejarahnya. Yup.... Hari Pahlawan. Hari dimana pertumpahan darah besar-besaran terjadi di salah satu kota besar Indonesia, Surabaya, untuk mendapatkan kemerdekaan Indonesia. Ck, ck, ck. Salut deh buat para pahlawan kita. Nah, kita sebagai generasi penerus yang sudah mendapatkan hadiah yang besar dari pahlawan kita patut berterima kasih pada para pahlawan kita. Jika sebagian kita ditanya, "udah ngelakuin apa aja buat di hari pahlawan?" Hampir semua kita pasti menjawab, " upacara!"
Para pahlawan kita tuh sebenarnya nggak butuh laaagi dengan yang namanya upacara terus menabur bunga di kuburan mereka. Buat apa coba??? Emang mereka bisa ngeliat gitu, kita berdiri panas-panasan atau ngebau harumnya bunga yang kita tabur? Nggak kan. Makanya, buat ngasih unjuk ke pahlawan kita kalau kita sangat menghargai apa yang udah mereka lakukan buat negara kita, kita bisa nunjukin itu dengan sikap kita kok. Klise emang. Tapi kalo ngeliat apa yang ada di negara kita sekarang, sikap masyarakat, pelajar, mahasiswa, dan bahkan pemerintah kita sekalipun, nggak ada yang nunjukin kalo mereka tuh cinta tanah air. Buktinya?
Pertama kalangan masyarakat, kalo ditanya sama masyarakat kebanyakan 10 Nov hari apa, mereka pasti nggak tahu. Kalau udah kayak gini sih susah, inget aja nggak apalagi membalas jasa. Kedua pelajar, lumayan lah, soalnya paling tidak mereka juga ikut upacara. Tapi hobi mereka yang suka tawuran mencerminkan seolah pribadi anak bangsa tuh ya kayak gitu. Sehingga, pelajar indonesia tuh lebih terkenal dengan aksi "aneh"nya dari pada prestasinya. Ketiga mahasiswa, nah loh, kerjanya cuma protes doang. Emang sih unjuk rasa adalah salah satu bentuk penyampaian aspirasi masyarakat kepada pemerintah dan itu sah-sah saja dilakukan. Tapi, kalo unjuk rasanya terus-terusan kapan belajarnya? Pake ngamuk segala lagi di kantor-kantor pemerintahan, kan nggak wajar. Terakhir Pemerintah, kayaknya yang paling aneh bin ajaib masa pake "tawuran" sama "ngamuk" segala di dalam rapat. Beda pendapat boleh, maksain pendapat yang aneh. ya kan?
Dari semua itu keliatan banget kalau nggak ada yang peduli lagi dengan yang namanya cinta tanah air. Sebab masing-masing individu hanya mementingkan dirinya sendiri. Apa nggak sedih tuh para pahlawan ama sikap kita yang acuh tak acuh sama negara yang udah mereka perjuangkan dengan pengorbanan nyawa mereka? Hmmm, renungin masing-masing ya.

Rabu, 03 November 2010

Did you know?

Tahu nggak sih, ternyata hampir nggak ada yang namanya hijau di musim gugur. How come? Ini terjadi karena tumbuhan tidak bisa memasak makanannya dengan optimal di musim gugur. Ya iyalah, secara di musim gugur tuh matahari nggak bersinar terlalu terang. Makanya, si tumbuhan nggak dapet sinar matahari yang cukup sehingga membuat si tuan klorofil ikutan nggak muncul dari dalam daun. Nah, otomatis kalo klorofil nggak muncul??? Yup. Nggak ada hijau pada daun. Pada dasarnya di daun terdapat warna-warna lain seperti kuning, merah dan orange. Dan warna inilah yang berperan menggantikan hijau selama musim gugur. That's why, kita (kita?) selalu melihat lebih banyak warna-warna itu ketimbang warna hijau dimusim gugur.